top
logo

Foto Kegiatan

Flash 8 required

Saat Ini Jam

Pendapat Anda

Bagaimana tampilan website ini ?
 

Statistics

Kunjungan : 1052598

Facebook Share

Share on facebook

Home Hasil Penelitian Penelitian Penyalahgunaan Narkoba Pelajar Penyalahgunaan Narkoba Pelajar Sekolah Menengah di Pati
Penyalahgunaan Narkoba Pelajar Sekolah Menengah di Pati PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Administrator   
Rabu, 22 Juni 2011 00:00

Dari hasil penelitian, dapat diambil beberapa kesimpulan berikut rekomendasinya sebagai bahan pengambilan keputusan dalam rangka penanggulangan penyalahgunaan narkoba khususnya dikalangan para pelajar sekolah menengah di Kabupaten Pati. Kesimpulan dan rekomendasinya adalah sebagai berikut :

 

KESIMPULAN

Penelitian ini memiliki beberapa temuan utama. Pertama, hasil survey terhadap 300 responden (pelajar sekolah menengah) emnunjukkan bahwa sebanyak 50 responden (16,67 %) mengaku pernah merokok. Pelajar pertama kali merokok terutama didorong oleh faktor internal: rasa ingin tahu, coba-coba dan menghibur diri (54 %). Mereka mengulangi merokok lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal yaitu pergaulan kawan.

Kedua, hasil survey terhadap 300 orang pelajar sekolah menengah menunjukkan bahwa sebanyak 5,67 % responden mengaku pernah minum minuman keras. Responden pertama kali minum lebih disebabkan karena faktor eksternal yaitu sebanyak 9 dari 17 (52.94 %) mengaku minum disebabkan faktor pergaulan. Mereka mengulangi minum minuman keras lagi umumnya juga dikarenakan pergaulan.

Ketiga, sebanyak 300 responden (pelajar sekolah menengah) yang menyatakan pernah menggunakan narkoba sebanyak 3 orang (1,00 %). Dua orang berkelamin laki-laki dan 1 orang berkelamin perempuan. Faktor pendorong menggunakan narkoba, salah satunya adalah stress dan bermasalah. Satu pelajar lainnya menggunakan narkoba karena faktor lain. Sementara satu pelajar lainnya tidak jelas, tidak memberikan alasan mengenai faktor pendorong kenapa dia menggunakan narkoba.

Keempat, dampak penyalahgunaan narkoba terhadap proses pembelajaran diantaranya adalah perilaku membolos sekolah. Sebanyak 71 dari 300 responden (23,67 %) menyatakan pernah membolos sekolah. Pelajar yang membolos dengan alasan merokok sebanyak 4 orang (1,33 %). Responden yang membolos dengan alasan minum sebanyak 2 orang (0,67 %). Responden yang membolos karena alasan narkoba sebanyak 1 orang (0,33 %). Selebihnya responden membolos karena alasan lainnya (21,33 %).

Kelima, dampak penyalahgunaan narkoba terhadap ekonomi diantaranya adalah penyalahgunaan uang sekolah (ngemplang uang sekolah). Sebagian responden mengaku pernah menyalahgunakan uang sekolah. Satu dari 300 orang (0,33 %) mengaku pernah ngemplang uang sekolah karena merokok. Sebanyak 22 orang (7,33 %) menyalahgunakan uang sekolah karena alasan lain. Selain itu, ada 2 responden (0, 66 %) menyatakan pernah merusak barang karena merokok dan sebanyak 39 orang (13, 00 %) menyatakan pernah merusak barang karena alasan lain.

Keenam, dampak penyalahgunaan narkoba terhadap masalah sosial diantaranya pelajar terlibat masalah perkelahian, percekcokan, hubungan orang tua, hubungan guru, hubungan sejawat dan urusan polisi. Sesuai hasil survey menunjukkan: (1) dua dari 300 responden (0,66 %) menyatakan pernah berkelahi karena minum; (2) satu responden (0,33 %) mengaku pernah berkelahi karena merokok; (3) Sebanyak 3 responden (1,00 %) mengaku pernah terlibat percekcokan karena merokok; (4) sebanyak 2 pelajar (0,66 %) mengaku pernah mengalami permasalahan hubungan dengan orang tua karena merokok; (5) sebanyak 1 pelajar (0,33 %) mengaku pernah mengalami permasalahan hubungan dengan guru karena merokok; (6) sebanyak 2 pelajar (0,66 %) mengaku pernah mengalami permasalahan hubungan sejawat, dengan kawan karena merokok; dan (7) sebanyak 1 responden (0,33 %) mengaku pernah mengalami permasalahan urusan polisi karena merokok.

Ketujuh, dampak penyalahgunaan narkoba terhadap masalah kesehatan diantaranya adalah mengalami keluhan sakit dan kecelakaan jatuh dari kendaraan. Hasil survey menunjukkan bahwa: (1) responden yang pernah mengalami jatuh/kecelakaan karena merokok sebanyak 2 orang (0,66 %); (2) responden yang mengalami jatuh/kecelakaan karena minum sebanyak 1 orang (0,33 %); (3) responden yang mengaku pernah mengalami gangguan kesehatan fisik karena merokok sebanyak 1 orang (0,33 %).

Kedelapan, dampak penyalahgunaan narkoba terhadap pelecehan seksual di kalangan pelajar sekolah menengah belum ada indikasi. Berdasarkan hasil survey, sebanyak 7 dari 300 responden (pelajar sekolah menengah) menyatakan pernah melakukan hubungan seksual. Namun responden menyatakan bahwa mereka melakukan hubungan seksual tidak terkait dengan penyalahgunaan narkoba tetapi mereka melakukan hubungan seksual dengan alasan lain. Pengakuan responden mengenai pelecehan seksual ini memberikan indikasi adanya kecenderungan dekadensi moral dan kerentanan penyimpangan perilaku di kalangan pelajar sekolah menengah baik SMA, SMK dan MA.

REKOMENDASI

Sesuai pengakuan responden (pelajar sekolah menengah) yang berjumlah 300 orang, 50 orang (16,67 %) menyatakan pernah merokok. Responden yang pernah minum minuman keras sebanyak 17 orang (5,67 %). Sementara responden yang pernah menggunakan narkoba jenis obat-obatan berbahaya sebanyak 3 orang (1,00 %). Responden yang merokok dan berlanjut minum sebanyak 32,00 %. Responden yang minum dan berlanjut pada penggunaan narkoba jenis obat sebanyak 11,76 %. Mereka, para pengguna narkoba belum banyak mengalami gangguan kesehatan. Namun ini bukan berarti mereka aman dari resiko/dampak merokok, minum dan narkoba. Guna meminimalisasi dampak dari merokok (pre-narkoba), minum (narkoba awal) dan obat berbahaya (narkoba lanjutan) perlu dilakukan beberapa strategi.

Pertama, Monitoring terhadap aktivitas pelajar merokok perlu diperketat karena merokok merupakan pintu gerbang menuju minum dan penggunaan obat berbahaya lainnya. Setidaknya, semakin kecil proporsi siswa yang merokok akan semakin kecil timbulnya berbagai perilaku negatif dampak merokok.

Kedua, aktivitas merokok bagi guru dan karyawan di sekolah perlu diatur dan ada pembatasan merokok di lingkungan kerja. Salah satunya melalui penyediaan “Smoking bans” (tempat terbatas untuk merokok). Peraturan mengenai smoking ban diantaranya berguna untuk melindungi orang lain (non perokok atau perokok pasif) dari dampak asap rokok seperti resiko terkena penyakit jantung, kanker, dan emphysema. Hasil reset membuktikan bahwa perokok pasif ditempat kerja meningkatkan resiko kanker paru-paru sebesar 16–19 %. Studi tahun 2002 oleh WHO menyimpulkan bahwa non perokok (perokok pasif) memiliki resiko sama mendapat carcinogens (penyebab kanker) seperti perokok aktif. Dengan alasan tersebut, smoking ban perlu dikembang di lingkungan kerja institusi pemerintah termasuk sekolah dan area publik lainnya.

Ketiga, minum memiliki banyak potensi dampak negatif diantaranya masalah interaksi sosial dan bahaya lainnya. Guna mengeliminasi dampak minum minuman keras khususnya di kalangan pelajar, pemerintah perlu mengatur tentang pembatasan usia transaksi jual beli. Di berbagai negara maju umumnya ada pembatasan usia boleh membeli minuman keras. Di Argentina, Australia, Hongkong dan Canada misalnya, orang bolaeh membeli minuman keras minimum usia 18 tahun. Di Jepang, orang boleh membeli minuman beralkohol (minuman keras) setidaknya usia 20 tahun. Selain pembatasan usia bagi pembeli, para penjual minuman keras perlu diatur dan ada regulasi yang jelas.

Keempat, salah satu dampak buruk narkoba adalah mengakibatkan pecandu memiliki suatu retardasi mental dan emosional. Retardasi sering dikaitkan dengan keterbelakangan mental. Retardasi yang dialami pecandu adalah ketidakmampuannya berpikir dan membuat keputusan seperti layaknya orang-orang normal seusianya. Guna mengeliminasi timbulnya retardasi di kalangan pelajar, pusat pelayanan umum yang rentan terhadap penyalahgunaan narkoba seperti pusat hiburan malam, agar dijauhkan dari lingkungan pusat pelayanan pendidikan.

Kelima, penyalahgunaan narkoba mengalami suksesi. Hasil temuan, pelajar merokok berlanjut minum sebanyak 32,00 % dan pelajar minum miras berlanjut menggunakan narkoba (drug) 11,76 %. Oleh karena itu penanggulangan penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar agar menekankan usaha preventif. Salah satu strategi usaha prventif ini dapat dilakukan melalui kerjasama BNK dengan pihak sekolah dan melibatkan institusi kesehatan dan penegakan hukum.

Terakhir Diperbaharui pada Kamis, 30 Juni 2011 05:55
 

bottom

Badan Narkotika Kabupaten Pati : Satgas Bidang Litbang dan Informatika.
Warning: call_user_func() expects parameter 1 to be a valid callback, function 'tdo' not found or invalid function name in /home/bnkpati/public_html/templates/themza_j15_06/html/pagination.php on line 153
Valid XHTML and CSS.